TREN DAN ISU PELAYANAN KESEHATAN LANSIA

A.        Lansia dalam Kependudukan di Indonesia

Pada tahun 2000 jumlah lansia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada tahun 2002 menjadi sebesar 11,34% (BPS,1992). Data Biro Sensus Amerika Serikat memperkirakan Indonesia akan mengalami pertambahan warga lanjut usia terbesar di seluruh dunia pada tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414% (Kinsella dan Taeuber,1993).

Menurut Dinas Kependudukan Amerika Serikat (1999), jumlah populasi lansia berusia 60 tahun atau lebih diperkirakan hamper mencapai 600 juta orang dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050, saat itu lansia akan melebihi jumlah populasi anak (0-14 tahun). Proyeksi penduduk oleh Biro Pusat Statistik menggambarkan bahwa antara tahun 2050-2010 jumlah lansia akan sama dengan jumlah anak balita yaitu sekitar 19 juta jiwa atau 8,5% dari seluruh jumlah penduduk.

Seiring dengan berkembangnya Indonesia sebagai salah satu negara dengan  tingkat perkembangan yang cukup baik, maka makin tinggi pula harapan hidup penduduknya. Diperkirakan harapan hidup orang Indonesia dapat mencapai 70 tahun pada tahun 2000.

Kesejahteraan penduduk usia lanjut karena kondisi fisik dan/atau mentalnya tidak memungkinkan lagi untuk berperan dalam pembangunan, maka lansia perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat (GBHN, 1993).

Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh instansi pemerintah diantaranya pelayanan kesehatan, sosial, ketenagakerjaan dan lainnya telah dikerjakan pada berbagai tingkatan, yaitu tingkat individu lansia, kelompok lansia, keluarga, Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW), Sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar (primer), tingkat pertama (sekunder), tingkat lanjutan, (tersier) untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada lansia.

B.        Masalah  Kesehatan Gerontik

Masalah kehidupan sexual

Adanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang adalah mitos atau kesalahpahaman. (parke, 1990). Pada kenyataannya hubungan seksual pada suami isri yang sudah menikah dapat berlanjut sampai bertahun-tahun. Bahkan aktivitas ini dapat dilakukan pada saat klien sakit aau mengalami ketidakmampuan dengan cara berimajinasi atau menyesuaikan diri dengan pasangan masing-masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa maturitas dan kemesraan antara kedua pasangan sepenuhnya normal. Ketertarikan terhadap hubungan intim dapat terulang antara pasangan dalam membentuk ikatan fisik dan emosional secara mendalam selama masih mampu melaksanakan.

Perubahan prilaku

Pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya: daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinya sudah tidak menarik lagi, lansia sering menyebabkan sensitivitas emosional seseorang yang akhinya menjadi sumber banyak masalah.

Pembatasan fisik

Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan – peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya ganggun di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantunan yang memerlukan bantuan orang lain.

Palliative care

Pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut ditunjukan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena poli fermasi dapat menimbulkan masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping obat. Sebagai contoh klien dengan gagal jantung dan edema mungkin diobatai dengan dioksin dan diuretika. Diuretik berfungsi untu mengurangi volume darah dan salah satu efek sampingnya yaitu keracunan digosin. Klien yang sama mungkin mengalami depresi sehingga diobati dengan antidepresan. Dan efek samping inilah yang menyebaban ketidaknyaman lansia.

Pengunaan obat

Medikasi pada lansia memerlukan perhatian yang khusus dan merupakan persoalan yang sering kali muncul dimasyarakat atau rumah sakit. Persoalan utama dan terapi obat pada lansia adalah terjadinya perubahan fisiologi pada lansia akibat efek obat yang luas, termasuk efek samping obat tersebut. (Watson, 1992). Dampak praktis dengan adanya perubahan usia ini adalah bahwa obat dengan dosis yang lebih kecil cenderung diberikan untuk lansia. Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia sering kali menderita bermacam-macam penyakit untuk diobati sehingga mereka membutuhkan beberapa jenis obat. Persoalan yang dialami lansia dalam pengobatan adalah :

  • Bingung
  • Lemah ingatan
  • Penglihatan berkurang
  • Tidak bias memegang
  • Kurang memahami pentingnya program tersebut unuk dipatuhi dan dijalankan

Kesehatan mental

Selain mengalami kemunduran fisik lansia juga mengalami kemunduran mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan soialnya akan semakin berkurang dan dapat mengakibatkan berkurangnya intregrasi dengan lingkungannya.

  1. Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap Lansia

Upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi azas, pendekatan, dan jenis pelayanan kesehatan yang diterima.

  1. Azas

Menurut WHO (1991) adalah to Add life to the Years that Have Been Added to life, dengan prinsip kemerdekaan (independence), partisipasi (participation), perawatan (care), pemenuhan diri (self fulfillment), dan kehormatan (dignity).

Azas yang dianut oleh Departemen Kesehatan RI adalah Add life to the Years, Add Health to Life, and Add Years to Life, yaitu meningkatkan mutu kehidupan lanjut usia, meningkatkan kesehatan, dan memperpanjang usia.

  1. Pendekatan

Menurut World Health Organization (1982), pendekatan yang digunakan adalag sebagai berikut :

  • Menikmati hasil pembangunan (sharing the benefits of social development)
  • Masing-masing lansia mempunyai keunikan (individuality of aging persons)
  • Lansia diusahakan mandiri dalam berbagai hal (nondependence)
  • Lansia turut memilih kebijakan (choice)
  • Memberikan perawatan di rumah (home care)
  • Pelayanan harus dicapai dengan mudah (accessibility)
  • Mendorong ikatan akrab antar kelompok/ antar generasi (engaging the aging)
  • Transportasi dan utilitas bangunan yang sesuai dengan lansia (mobility)
  • Para lansia dapat terus berguna dalam menghasilkan karya (productivity)
  • Lansia beserta keluarga aktif memelihara kesehatan lansia (self help care and family care)
  1. Jenis

Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lim upaya kesehatan, yaitu

Promotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, serta pemulihan.

  • Promotif

Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan dukungan klien, tenaga profesional dan masyarakat terhadap praktek kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial.

Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia sebagai berikut :

  • Mengurangi cedera
  • Meningkatkan keamanan di tempat kerja

Meningkatkan perlindungan  dari kualitas udara yang buruk

  • Menibgkatkan keamanan, penanganan makanan dan obat-obatan
  • Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut
  • Preventif
    • Mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier. Contoh pencegahan primer : program imunisasi, konseling, dukungan nutrisi, exercise, keamanan di dalam dan sekitar rumah, menejemen stres, menggunakan medikasi yang tepat.
    • Melakukakn pencegahan sekuder meliputi pemeriksaan terhadap penderita tanpa gejala. Jenis pelayanan pencegahan sekunder: kontrol hipertensi, deteksi dan pengobatan kanker, skrining : pemeriksaan rektal, mamogram, papsmear, gigi, mulut.
    • Melakukan pencegahan tersier dilakukan sesudah gejala penyakit dan cacat. Jenis pelayanan mencegah berkembangnya gejala dengan memfasilisasi rehabilitasi, medukung usaha untuk mempertahankan kemampuan anggota badan yang masih bnerfungsi
  • Rehabilitatif

Prinsip

  • Pertahankan lingkungan aman
  • Pertahankan kenyamanan, istirahat, aktifitas dan mobilitas
  • Pertahankan kecukupan gizi
  • Pertahankan fungsi pernafasan
  • Pertahankan aliran darah
  • Pertahankan kulit
  • Pertahankan fungsi pencernaan
  • Pertahankan fungsi saluran perkemihaan
  • Meningkatkan fungsi psikososial
  • Pertahankan komunikasi
  • Mendorong pelaksanaan tugas

D.        Hukum dan Perundang-undangan yang Terkait dengan Lansia

  • UU No. 4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jomp.
  • UU No.14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja
  • UU No.6 tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial
  • UU No.3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
  • UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • UU No. 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian
  • UU No.4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman
  • UU No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera
  • UU No.11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun
  • UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan
  • PP No.21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera
  • PP No.27 tahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan
  • UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia (tambahan lembaran negara Nomor 3796) sebagai pengganti UU No.4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan bagi Orang Jompo.

UU No. 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain :

  • Hak, kewajiban, tugas, serta tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan kelembagaan.
  • Upaya pemberdayaan
  • Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lansia potensial dan tidak potensial
  • Pelayanan terhadap lansia
  • Perlindungan sosial
  • Bantuan sosial
  • Koordinasi
  • Ketentuan pidana dan sanksi administrasi
  • Ketentuan peralihan

Beberapa undang-undang yang perlu disusun adalah :

  • UU tentang Pelayanan Lansia Berkelanjutan (Continum of Care)
  • UU tentang Tunjangan Perawatan Lansia
  • UU tentang Penghuni Panti (Charter of Resident’s Right)
  • UU tentang Pelayanan Lansia di Masyarakat (Community Option Program)

E.        Peran Perawat

Berkaitan dengan kode etik yang harus diperhatikan oleh perawat adalah :

  • Perawat harus memberikan rasa hormat kepada klien tanpa memperhatikan suku, ras, gol, pangkat, jabatan, status social, maslah kesehatan.
  • Menjaga rahasia klien
  • Melindungi klien dari campur tangan pihak yang tidak kompeten, tidak etis, praktek illegal.
  • Perawat berhak mnerima jasa dari hasil konsultasi danpekerjaannya
  • Perawat menjaga kompetesi keperawatan
  • Perawat memberikan pendapat dan menggunakannya. Kompetei individu serta kualifikasi daalm memberikan konsultasi
  • Berpartisipasi aktif dalam kelanjutanyaperkembangannya body of knowledge
  • Berpartipitasi aktif dalam meningkatan standar professional
  • Berpatisipasi dalam usaha mencegah masyarakat, dari informasi yang salah dan misinterpretasi dan menjaga integritas perawat

Perawat melakukan kolaborasi dengan profesi kesehatannya yang lain atau ahli dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat termasuk pada lansia.

F.         Program Pemerintah dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Khususnya Lansia

Contoh upaya pemerintah di negara maju dalam meningkatkan kesehatan masyarakatnya, diantaranya adanya medicare dan medicaid. Medicare adalah program asuransi social federal yang dirancang untu menyediakan perawatan kesehatan bagi lansia yang memberikan jaminan keamanan social. Medicare dibagi 2 : bagian A asuransi rumah sakit dan B asuransi medis. Semua pasien berhak atas bagian A, yang memberikan santunan terbatas untuk perawatan rumah sakit dan perawatan di rumah pasca rumah sakit dan kunjungan asuhan kesehatan yang tidak terbatas di rumah. Bagian B merupakan program sukarela dengan penambhan sedikit premi perbulan, bagian B menyantuni secara terbatas layanan rawat jalan medis dan kunjungan dokter. Layanan mayor yang tidak di santuni oleh ke dua bagian tersebut termasuk asuhan keperwatan tidak terampil, asuhan keperawatan rumah yang berkelanjutan obat-obat yang diresepkan, kaca mata dan perawatan gigi. Medical membayar sekitar biyaya kesehatan lansia (U.S Senate Committee on Aging, 1991).

Medicaid adalah program kesehatan yang dibiayai oleh dana Negara dan bantuan pemerintah bersangkutan. Program ini beredaq antara satu Negara dengan lainya dan hanya diperuntukan bagi orang tidak mampu. Medicaid merupakan sumber utama dana masyarakat yang memberikan asuhan keperawatan di rumah bagi lansia yang tidak mampu. Program ini menjamin semua layanan medis dasar dan layanan medis lain seperti obta-obatan, kaca mata dan perawatan gigi.

Adapun program kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia  yang diperuntukkan khusunya bagi lansia adalah JPKM yang merupakan salah satu program pokok perawatan kesehatan masyarakat yang ada di puskesmas sasarannya adalah yang didalamnya ada keluarga  lansia. Perkembangan jumlah keluarga yang terus menerus meningkat dan banyaknya keluarga yang berisiko tentunya menurut perawat memberikan pelayanan pada keluarga secara professional. Tuntutan ini tentunya membangun “ Indonesia Sehat 2010 “ yang salah satu strateginya adalah Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Dengan strategi ini diharapkan lansia mendapatkan yang baik dan perhatian yang selayakn

G. Pandangan Islam Tentang Lansia

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra : 23-24

Artinya :

Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah berbuat baik ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaan, maka jangan sekali-sekali engkau mengatakan kepada ke duanya perkataan “Ah” dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah “ wahai tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil”.

Referensi

Maryam, R siti.Mengenal Usia Lanjut dan Perawatanya. 2008. Jakatra: Salemba medika

  1. Situart dan Sundart. Keperawatan Medikal Bedah 1.2001. Jakarta: EGC
  2. Mubarak Wahid iqbal,dkk. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. 2006. Jakarta: Sagung Seto
Published in: on Mei 7, 2009 at 4:40 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

isu keperawatan gerontik

Isu etis dan legal

Lansia yang tidak mempunyai rencana menegemen pribadi atau kepemilikan, saat mengalami kecacatan atau kematian maka akan kehilangan hak, menjadikorban dan konsekwensi buruk yang dihadapi, sehingga perawat dapat menjadi penasehat yang mendorong lansia untuk membuat langkah kedepan dalam mengambil keputusan di masa depan saat terjadi ketidakmampuan.
Tras merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan oleh individu lansia, denga tras seseorang dapat menunjuk orang lain untuk mengatur segala propertinya dan menunjuk ahli waris, jika terjadi inkompetensi atau kecacatan, menejemen propertinya akan didasarkan keinginan individu. Jika tidak ada pengaturan peraturan yang telah dibuat dan individu lansia tidak bisa membuat keputusan, seorang dapat mengajukan petisi kepengadilan untuk prasidangan incompetency hearing. Jika pengadilan menyatakan bahwa individu tersebut kompeten mkan pengadilan tersebut akan menunjuk wali, pihak ketiga yang diberi kuasa oleh pengadilan untuk mengambil tanggung jawab untuk membuat keputusan finansial untuk individu tersebut. Ada 2 perwalian yaitu perwalian orang dan perwalian Negara, namun ada bentuk perwalian yang kurang mengikat disebut perwalian terbatas melimpahkan kepada wali yang ditunjuk hanya kekuasaan atau tugas-tugas yang tidak dapat dilakukan oleh pemberi kuasa. Ketika individu lansia mengalami penyakit yang parah tanpa harapan sembuh, individu lansia tidak menginginkan hidupnya diperpanjang maka dapat memberi petunjuk dimuka mengenai pengobatan medis melalui penggunan surat wasiat. Dokumen tertulis ini harus ditandatangani oleh individu dan mempunyai 2 orang saksi, surat wasiat ini harus diberikan kepada dokter yang merawat dan digabungkan ke dalam cacatan medisnya. Banyak Negara bagian yang telah memberlakukan undang-undang untuk enerima dokumen tersebut. Perawat dapat membantu individu menyimpan dokumen tersebut dan mendorong pembahasanya dengan dokter yang merawat. Dokter harus menulis dan menandatangani perintah no-code atau jangan dilakukan resusitasi sebaliknya, resusitasi dilakukan jika terjadi kegawatan medis.

Medicare dan Medicaid

Medicare adalalah program asuransi social federal yang dirancang untu menyediakan perawatan kesehatan bagi lansia yang memberikan jaminan keamanan social. Medicare dibagi 2 : bagian A asuransi rumah sakit dan B asuransi medis. Semua pasien berhak atas bagian A, yang memberikan santunan terbatas untuk perawatan rumah sakit dan perawatan di rumah pasca rumah sakit dan kunjungan asuhan kesehatan yang tidak terbatas di rumah. Bagian B merupakan program sukarela dengan penambahan sedikit premi perbulan, bagian B menyantuni secara terbatas layanan rawat jalan medis dan kunjungan dokter. Layanan mayor yang tidak di santuni oleh ke dua bagian tersebut termasuk asuhan keperwatan tidak terampil, asuhan keperawatan rumah yang berkelanjutan obat-obat yang diresepkan, kaca mata dan perawatan gigi. Medical membayar sekitar biaya kesehatan lansia (U.S Senate Committee on Aging, 1991).
Medicaid adalah program kesehatan yang dibiyayai oleh dana Negara dan bantuan pemerintah bersangkutan. Program ini beredar antara satu Negara dengan lainya dan hanya diperuntukan bagi orang tidak mampu. Medicaid merupakan sumber utama dana masyarakat yang memberikan asuhan keperawatan di rumah bagi lansia yang tidak mampu. Program ini menjamin semua layanan medis dasar dan layanan medis lain seperti obat-obatan, kaca mata dan perawatan gigi.

Al-Isra

Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah berbuat baik ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaan, maka jangan sekali-sekali engkau mengatakan kepada ke duanya perkataan “Ah” dan janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.(Qs.17-23)
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “ wahai tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil”. (Qs. 17-24)

Issu dan kecendrungan masalah kesehatan gerontik
1. masalah kehidupan sexual
adanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah hilang adalah mitos atau kesalahpahaman. (parke, 1990). Pada kenyataannya hubungan seksual pada suami isri yang sudah menikah dapat berlanjut sampai bertahun-tahun. Bahkn aktivitas ini dapat dilakukan pada saat klien sakit aau mengalami ketidakmampuan dengan cara berimajinasi atau menyesuaikan diri dengan pasangan masing-masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa maturitas dan kemesraan antara kedua pasangan sepenuhnya normal. Ketertarikan terhadap hubungan intim dapat terulang antara pasangan dalam membentuk ikatan fisik dan emosional secara mendalam selama masih mampu melaksanakan.
2. perubahan prilaku
pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya: daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinya sudah idak menaik lagi, lansia sering menyebabkan sensitivitas emosional seseorang yang akhitnya menadi sumber banya masalah.
3. pembatasan fisik
dengan demikian lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan – peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya ganggun di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantunan yang memerlukan bantuan orang lain.
4. palliative care
pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut ditunjukan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena poli fermasi dapat menimbulkan masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping obat. Sebagai contoh klien dengan gagal jantung dan edema mungkin diobatai dengan dioksin dan diuretika. Diuretic berfungsi untu mengurangi volume darah dan salah satu efek sampingnya yaitu keracunan digosin. Klien yang sama mungkin mengalami depresi sehingga diobati dengan antidepresan. Dan efek samping inilah yang menyebaban ketidaknyaman lansia.

5. Pengunaan obat
Medikasi pada lansia memerlukan perhatian yang khusus dan merupakan persoalan yang sering kali muncul dimasyarakat atau rumah sakit. Persoalan utama dan terapi obat pada lansia adalh terjadinya perubahan fisiologi pada lansia akibat efek obat yang luas, termasuk efek samping obat tersebut. (Watson, 1992). Dampak praktis dengan adanya perubahan usia ini adalah bahwa obat dengan dosis yang lebih kecil cenderung diberikan untuk lansia. Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia sering kali menderita bermacam-macam penyakit untuk diobati sehingga mereka membutuhkan beberapa jenis obat. Persoalan yang dialami lansia dalam pengobatan adalah :
• Bingung
• Lemah ingatan
• Penglihatan berkurang
• Tidak bias memegang
• Kurang memahami pentingnya program tersebut unuk dipatuhi dan dijalankan
Kesehatan mental
Selain mengalami kemunduran fisik lansia juga mengalami kemunduran mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan soialnya akan semakin berkurang dan dapat mengakibatkan berkurangnya intregrasi dengan lingkungannya.
Hukum dn etik dalam perawatan gerontik
Dalam Undang – undang Dasar 1945 pada :
Pasal 27
Segala W.N. bersamaan kedudkan didalam hokum dan pemerintahan dan wajib menjunjungnya hokum dan pemerinahannya itudengan tidak ada kecualinya.
Tiap – tiap W.N. berhak atas pekerjaannya dan penghidupannya yang layak bagi kemanusiaan
Pasal 34
Pakir miskin dan anak –anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.
Berpedoman pada hokum tersebut, sebagai perawat kesehatan masyarakat bertanggung jawab dalam mencegah penganiyayaan. Penganiyayaan yang dimaksud dapat berupa : penyi-nyiyaan, penganiayaan yang disengaja dan eksploitasi. Sedangkan pencegahan yang data dilakukan adalah berupa : perlindungan dirumah, perlindungan hokum dan perawatan dirumah. Berkaitan dengan kode etik yang harus diperhatikan oleh perawat adalah :
• Perawat harus memberikan rasa hormat kepada klien tanpa memperhatiak suku, ras, gol, pangkat, jabatan, status social, maslah kesehatan.
• Menjaga rahasia klien
• Melindungi klien dari campur tangan pihak yang tidak kompeten, tidak etis, praktek illegal.
• Perawat berhak mnerima jasa dari hasil konsultasi danpekerjaannya
• Perawat menjaga kompetesi keperawatan
• Perawat memberikan pendapat dan menggunakannya. Kompetei individu serta kualifikasi daalm memberikan konsultasi
• Berpartisipasi aktif dalam kelanjutanyaperkembangannya body of knowledge
• Berpartipitasi aktif dalam meningkatan standar professional
• Berpatisipasi dalam usaha mencegah masyarakat, dari informasi yang salah dan misinterpretasi dan menjaga integritas perawat
Perawat melakukan kolaborasi dengan profesi kesehatannya yang lain atau ahli dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat termasuk pada lansia.
JPKM lansia
Salah satu program pokok perawatan kesehatan masyarakat yang ada di puskesmas sasrannya adalah yang didalamnya ada keluarga lansia. Perkembangan jumlah keluarga yang terus menerus meningkat dan banyaknya keluarga yang berisiko tentunya menurut perawat memberikan palayanan pada keluarga secara professional. Tuntutan ini tentunya membangun “ Indonesia Sehat 2010 “ yang salah satu strateginya adalah Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Dengan strategi ini diharapkan lansia mendapatkan yang baik dan perhatian yang selayaknya.

Published in: on Mei 7, 2009 at 4:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Program Studi Ilmu Keperawatan

Program Studi Ilmu Keperawatan

Program Studi Ilmu Keperawatan bertujuan untuk menghasilkan lulusan berkualitas yang dapat menjadi tenaga ahli terampil di bidang keperawatan, beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, berwawasan luas, dan profesional, berdasarkan relevansi dan kebutuhan pasar melalui peningkatan kualitas penelitian dan pendidikan serta berperan serta dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Gelar Akademik yang diperoleh adalah Sarjana Keperawatan (S.Kp)

Kurikulum

Kurikulum Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggunakan kurikulum nasional yang berbasis kepada kompetensi, yaitu terdiri dari kompetensi dasar, utama dan pendukung. Penjelasan kurikulum masing-masing Program Studi ialah sebagai berikut :

Tujuan

1) Tujuan umum

Menghasilkan profesi Ners (Ns) dengan kualifikasi akademik Sarjana Keperawatan (SKep) yang beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, mempunyai keunggulan yang kompetetitif dalam persaingan global serta mampu mengintegrasikan ilmu keperawatan dan ilmu pengetahuan keislaman sehingga mampu berkontribusi dalam peningkatan kualitas derajat kesehatan bangsa Indonesia.

2) Tujuan khusus

a)     Memiliki sikap profesional dan Islami

b)     Mampu melaksanakan asuhan keperawatan

c)     Mampu mengelola pelayanan keperawatan di ruang rawat inap

d)     Mampu melaksanakan penelitian sederhana

e)      Mampu berperan sebagai pendidik tenaga keperawatan yang berada di ruang lingkup tanggung jawabnya

b. Kompetensi

Kompetensi lulusan Program Studi ilmu keperawatan di FKIK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah adalah sebagai berikut:

1) Kompetensi Dasar

a)     Mampu memahami dan menerapkan nilai nilai Keislaman

b)     Mampu menjadi warga negara Indonesia yang baik (Kewarganegaraan)

c)     Mampu menggunakan bahasa Arab secara pasif

d)     Mampu menggunakan bahasa Inggris secara pasif dan aktif

e)     Mampu mengintegrasikan ilmu fiqih dalam keperawatan (Fiqih kesehatan)

f)       Mampu melakukan Praktek ibadah dan qiroah

2). Kompetensi Utama

a) Keterampilan keilmuan dan dasar-dasar keperawatan

  • Keterampilan menerapkan konsep keperawatan lintas budaya (transcultural nursing) dalam proses keperawatan
  • Keterampilan menerapkan konsep hubungan bantuan (Helping relationship)
  • Keterampilan mengumpulkan data dalam proses keperawatan
  • Keterampilan melakukan analisis data dalam proses keperawatan
  • Keterampilan merencanakan asuhan keperawatan dengan melibatkan Klien dan keluarga dalam proses keperawatan
  • Keterampilan melaksanakan tindakan keperawatan
  • Keterampilan melakukan evaluasi dan revisi proses keperawatan
  • Keterampilan melakukan dokumentasi asuhan keperawatan
  • Keterampilan mengelola pelayanan keperawatan di ruang rawat inap pada kasus yang lazim terjadi
  • Keterampilan mengelola masalah kesehatan yang lazim terjadi pada individu, keluarga dan masyarakat
  • Kemampuan menjadi anggota tim dalam pelayanan kesehatan
  • Memiliki tanggung jawab profesional

3). Kompetensi Pendukung

a)     Keterampilan memanfaatkan berbagai sumber ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi terkini

b)      Mampu melaksanakan Riset keperawatan tingkat pemula

Published in: on Mei 7, 2009 at 3:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Akreditasi Program Studi Ilmu Keperawatan UIN

Tanggal 9 s.d 10 Februari 2009, Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan Akreditasi.

dr. Billy Johnson, Kepel, M.Med., Sc dan Dra. Suharyati, S.Kp., M.Kes sedang meninjau koleksi Keperawatan di perpustakaan FKIK sebagai salah satu unsur yang dinilai dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.
Koleksi prodi Ilmu Keperawatan di perpustakaan FKIK UIN Jakarta diantaranya: koleksi buku ajar, keloleksi CD, koleksi jurnal dan koleksi majalah.

Published in: on Mei 7, 2009 at 3:14 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Profil Keperawatan UIN

PROGRAM PENDIDIKAN NERS FKIK UIN JAKARTA

Program Pendidikan Ners merupakan salah satu amanat yang diemban dalam menyiapkan perawat profesional yang mampu menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi serta kebutuhan masyarakat akan pelayanan profesional sesuai dengan nilai keislaman sebagai mayoritas religiusnya. Untuk mencapai hal ini perlu kiranya pedoman-pedoman sebagai landasan proses pendidikan Ners agar lebih terarah dalam menyiapkan SDM yang berkualitas berupa pedoman kurikulum pendidikan Ners . Perlunya penggunaan pedoman, kita meneladani dalam ajaran Islam. Sang pencipta pun memberikan pedoman agar manusia tidak sampai berkehidupan diluar garis ketentuan, maka Allah SWT memberikan pedoman dalam membina dan mengarahkan semua perilaku mahluknya dengan Al Quran secara sistematis terencana dan terarah.
Tujuan umum
Menghasilkan profesi Ners (Ns) dengan kualifikasi akademik Sarjana Keperawatan (SKep) yang beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, mempunyai keunggulan yang kompetetitif dalam persaingan global serta mampu mengintegrasikan ilmu keperawatan dan ilmu pengetahuan keislaman sehingga mampu berkontribusi dalam peningkatan kualitas derajat kesehatan bangsa Indonesia.

Tujuan khusus
a. Memiliki sikap profesional dan Islami
b. Mampu melaksanakan asuhan keperawatan
c. Mampu mengelola pelayanan keperawatan di ruang rawat inap
d. Mampu melaksanakan penelitian sederhana
e. Mampu berperan sebagai pendidik tenaga keperawatan yang berada di ruang lingkup tanggung jawabnya

Diposkan oleh KEPERAWATAN UIN SH JAKARTA di 00:56 0 komentar

Langgan: Entri (Atom)

Published in: on Mei 6, 2009 at 4:53 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

PENDIDIKAN KEPERAWATAN

SEJARAH PENDIDIKAN KEPERAWATAN


Zaman purbakala ( Primitif Culture )

Manusia percaya bahwa apa yg ada di bumi, mempunyai kekuatan spritual/mistik yg mempengaruhi kehidupan manusia (animisme)
Sakit di sebabkan oleh:
– kekuatan alam/kekuatan gaib (batu-batu besar, gunung tinggi & pohon-2 besar) masyarakat lebih percaya pada dukun

Zaman mesir masyarakat percaya dewa ibis mampu menyembuhkan penyakit

Di Cina syetan sebagai penyebab penyakit, Akibatnya perawat tidak di perkenankan untuk merawat

2.Pertengahan abad VI masehi
Keperawatan berkembang di benua asia tepatnya asia barat daya yaitu timur tengah seiring dg perkembangan agama Islam. Abad VII jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan spt ilmu pasti,ilmu kimia, hygiene dan obat-obatan
Keperawatan mengalami kemajuan dg prinsip dasar kesehatan pentingnya kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan makanan, air & lingkungan. Tokoh yg terkenal dari dunia arab pada masa itu adalah Rufaidah

3.Permulaan abad XVI
Orientasi masyarakat dari agama kekuasaan yaitu perang. Rumah ibadah byk yg tutup yg biasanya di gunakan untuk merawat orang sakit. Perawat di gaji rendah dengan jam kerja yang lama pada kondisi kerja yg buruk. Sisi positif dari perang u/perkembangan keprwtan korban byk membutuhkan tenaga sukarela sebagai perawat (orde-2 agama, istri yang mengikuti suami perang & tentara-2 yg merangkap sbg prwat) konsep P3K

RS yang berperan besar terhadap perkembangan keperawatan pada masa kini (zaman pertengahan) yaitu hotel Dieu di Lion awalnya perawat mantan wts yang bertobat,tidak lama kemudian menggunakan perawat yang terdidik dari RS tsb
Hotel Dieu di Paris orde agama,setelah revolusi orde agama di hps di ganti orang-2 bebas yg tdk terikat agama,pelopor perawat terkenal r.s ini yaitu Genevieve Bouquet
St. Thomas Hospital, di dirikan th 1123 M Florence Nigtingale memperbaharui keperawatan

4. Pertengahan abad XVIII – XIX
Keperawatan mulai di percaya orang yaitu Florence Nigthingale
F.N lahir th 1820 dari keluarga kaya, terhormat, tumbuh & berkembang di Inggris, di terima mengikuti kursus pendidikan perawat usia 31 th.

2.PERKEMBANGAN PERAWAT DI INGGRIS


Sesuai perang krim F.N kembali ke Inggris
Inggris membuka jalan bagi kemajuan & perkembangan keperawatan yg di pelopori F.N. Tahun 1840 Inggris mengalami perubahan besar dalam perawatan
– Pendidikan perawat di London Hopital
– Th 1820 sekolah perawat modern
Kontrubusi F.N bagi perkembangan keperawatan:

  • Nutrisi merupakan bagian penting dari askep
  • Rekreasi merupakan suatu terapi bagi orang sakit
  • Mengidentifikasi kebutuhan personal ps & perawat untuk memenuhinya
  • Menetapkan standar manajemen R.S
  • Mengembangkan standar okupasi bagi ps wanita
  • Mengembangkan pendidikan keperawatan
  • Menetapkan 2 komponen keperawatan yaitu kesehatan & penyakit
  • Keperawatan berdiri sendiri & berbeda dengan profesi dokter
  • Menekankan kebutuhan Pendidikan berlanjut bagi perawat

(Dolan,1978 di kutip Taylor 1989)

3. PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA


Masa pemerintahan Belanda
– Perawat berasal dari pendidik pribumi (Velpleger) di bantu penjaga orang sakit (Zieken Oppaser)
– Bekerja di R.S Binnen Hospital di Jakarta (1799) memelihara kesehatan staf & tentara Belanda
– membentuk dinas kesehatan tentara & dinas kesehatan rakyat

Masa VOC (Gubenur Inggris Rafles 1812-1816)
– Kesehatan adalah milik manusia melakukan pencacaran umum.
– Membenahi cara perawatan pasien dg ggn jiwa.
– Memperhatikan kesehatan & perawatan para tahanan.

4. PERKEMBANGAN ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN

Beberapa organisasi keperawatan :
ICN (International Council of Nurses) organisasi profesional wanita pertama di dunia di dirikan tgl 1 Juli 1899 o/ Mrs.Bedford Fenwick.
Tujuannya:
– Memperkokoh silaturahmi prwt slrh dunia
– Memberi kesempatan bertemu bagi perwat di seluruh dunia untuk membicarakan masalah keperawatan.
– Menjunjung peraturan dlm ICN agar dpt mencapai kemajuan dlm pelayanan, pendidikan keperwatan berdasarkan kode etik profesi keperawatan.
ANA di dirikan th 1800 yang anggotanya dari negara-2 bagian, berperan :
– Menetapkan standar praktek keperawatan
– Canadian Nurse Association (CNA) tujuan sama dg ANA memberikan izin praktek keperawatan mandiri

NLN (National League for Nursing) di dirikan th 1952, tujuan u/pengembangan & peningkatan mutu pelayanan keperawatan & pendidikan keperawatan

British Nurse Association di dirikan th 1887,

tujannya: memperkuat persatuan & kesatuan seluruh perawat di Inggris & berusaha memperoleh pengakuan terhadap profesi keperawatan.

PPNI di dirikan 17 maret 1974

Published in: on Mei 2, 2009 at 3:18 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

KETIKA PROFESIONALISME KEPERAWATAN TERANCAM

Keperawatan adalah sebuah profesi, di mana di dalamnya terdapat sebuah “body of knowladge’ yang jelas. Profesi Keperawatan memiliki dasar pendidikan yang kuat, sehingga dapat dikembangkan setinggi-tingginya. Hal ini menyebabkan Profesi Keperawatan selalu dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia dalam upaya meningkatakan profesionalisme Keperawatan agar dapat memajukan pelayanan masyarakat akan kesehatan di negeri ini.1

Berdasarkan pemahaman tersebut dan untuk mencapainya, dibentuklah suatu Sistem Pendidikan Tinggi Keperawatan, yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatakan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dalam melaksanakan hal ini tentunya dibutuhkan sumber daya pelaksana kesehatan termasuk di dalamnya terdapat tenaga keperawatan yang baik, baik dalam kuantitas maupun dalam kualitas.

Saat ini, di Indonesia pendidikan Keperawatan masih merupakan pendidikan yang bersifat vocational, yang merupakan pendidikan keterampilan, sedangkan idealnya pendidikan Keperawatan harus bersifat profesionalisme, yang menyeimbangkan antara teori dan praktik. Oleh karena itu diperlukan adanya penerapan Sistem Pendidikan Tinggi Keperawatan, yaitu dengan didirikannya lembaga-lembaga Pendikan Tinggi Keperawatan. Hal ini telah dilakukan oleh Indonesia dengan membentuk sebuah lembaga Pendidikan Tinggi Keperawatan yang dimulai sejak tahun 1985, yang kemudian berjalan berdampingan dengan pendidikan-pendidikan vocational.
Selanjutnya, dalam perjalanan perkembangan keprofesionalismeannya, ternyata keprofesionalismean Keperawatan sulit tercapai bila pendidikan vocational lebih banyak dari pada pendidikan yang bersifat profesionalisme, dalam hal ini pendidikan tinggi Keperawatan. Oleh karena itu, diperlukan adanya standarisasi kebijakan tentang pendidikan Keperawatan yang minimal berbasis S1 Keperawatan.

Terkait hal tersebut, Direktorat Pendidikan Tinggi mengeluarkan SK No 427/ dikti/ kep/ 1999, tentang landasan dibentuknya pendidikan Keperawatan di Indonesia berbasis S1 Keperawatan. SK ini didasarkan karena Keperawatan yang memiliki “body of knowladge” yang jelas, dapat dikembangkan setinggi-tingginya karena memilki dasar pendidikan yang kuat2. Selain itu, jika ditelaah lagi, penerbitan SK itu sendiri tentu ada pihak-pihak yang terkat yang merekomendasikannya, dalam hal ini yakni Departemen Kesehatan ( DepKes) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jika dilihat dari hal ini, maka dapat disimpulkan adanya kolaborasi yang baik antara Depkes dan PPNI dalam rangka memajukan dunia Keperawatan di Indonesia.

Namun dalam kenyataannya tidaklah demikian. Banyak sekali kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Depkes yang sangat merugikan dunia keperawatan, termasuk kebijakan mengenai dibentuknya pendidikan Keperawatan DIV di Politeknik-politeknik Kesehatan (Poltekes), yang disetarakan dengan S1 Keperawatan, dan bisa langsung melanjutkan ke pendidikan strata dua (S2) dan juga. Padahal beberapa tahun lalu telah ada beberapa Program Studi Ilmu Keperawatan di negeri ini seperti PSIK Univesitas Sumatera Utara dan PSIK Universitas Diponegoro yang telah membubarkan dan menutup pendidikan DIV Keperawatan karena sangat jelas menghambat perkembangan profesi keperawatan. Selain itu masih beraktivitasnya poltekes-poltekes yang ada di Indonesia sekarang ini sebetulnya melanggar hukum Sistem Pendidikan Nasional yang ada tentang pendirian Poltekes, yakni Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Kedinasan, di mana pendirian Poltekes yang langsung berada dalam wewenang Depkes bertujuan dalam rangka mendidik pegawai negeri atau calon pegawai negeri di bidang kesehatan, sehingga setelah lulus, lulusan-lulusan Poltekes tersebut akan langsung diangkat menjadi pegawai negeri. Sedangkan saat ini, Poltekes bukan lagi merupakan Lembaga Pendidikan Kedinasan, sehingga para lulusannya tidak lagi mendapat ikatan dinas menjadi pegawai negeri. Oleh karena itu seharusnya Poltekes-poltekes yang sekarang ada ini tidak dapat lagi melakukan aktivitasnya memberikan pendidikan keperawatan.

Selain itu akhir-akhir ini Depkes telah membuat kebijakan yang mengghentikan utilisasi S1 Keperawatan, dan walaupun masih ada, mereka dijadikan perawat-perawat S1 yang siap dikirim ke luar negeri. Hal ini bertujuan untuk ”menggoalkan” DIV Keperawatan.

Sesungguhnya, sistem pelayanan kesehatan seperti apa yang akan diterapkan oleh Pemerintah dalam hal ini Depkes di negeri ini ?

Apakah dibalik semua alasan sistematis yang disampaikan dalam membentuk pendidikan DIV Keperawatan sebetulnya alasan utamanya adalah karena Depkes tidak mau mengalami kerugian jika sampai Poltekes-poltekes yang ada tidak dapat berfungsi lagi ?

Pendirian S1 Keperawatan merupakan rekomendasi dari Departemen Kesehatan, tapi mengapa justru dalam kenyataannya S1 keperawatan dimatikan utilisasinya ? Di mana letak kelogikaannya ?

Perawat-perawat S1 yang dihasilkan dimana tenaga-tenaga mereka sangat dibutuhkan di negeri ini dikirim ke luar negeri, tetapi untuk perawat di negeri sendiri “cukup” dengan pendidikan vocational saja. Kebijakan seperti apa ini ? Akan dibawa ke mana dunia pelayanan kesehatan di negara kita ini ?

Hal ini tentu saja sudah sangat keterlaluan. Profesi Keperawatan secara sedikit demi sedikit melalui cara-cara yang sistematis dibawa pada jurang kehancuran. Tentunya kita sebagai calon-calon perawat profesional di masa depan tidak akan membiarkan profesi kita tidak dihargai di masa depan dan pelayanan kesehatan yang diterapkan sangat jauh dari pelayanan kesehatan standar yang seharusnya didapat oleh bangsa ini. Lalu langkah apa yang akan kita tempuh ?

Cyted from : alumnifikui.blogspot.com

Published in: on Mei 2, 2009 at 3:01 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Perkembangan Teknologi Informasi dalam Pelayanan di Ruang Rawat

Era globalisasi dan era informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun memang kita tidak bisa mnutup mata akan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh keperawatan di Indonesia, diantaranya adalah keterbatasan SDM yang menguasai bidang keperawatan dan teknologi informasi sevara terpadu, masih minimnya infrastruktur untuk menerapkan sistem informasi di dunia pelayanan, dan masih rendahnya minat para perawat di bidang teknologi informasi keperawatan.

Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Pelayanan rumah sakit setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu pelayanan medis dan pelayanan yang bersifat non-medis, sebagai contoh pelayanan medis dapat terdiri dari pemberian obat, pemberian makanan, asuhan keperawatan, diagnosa medis, dan lain-lain. Ada pun pelayanan yang bersifat non medis seperti proses penerimaan, proses pembayaran, sampai proses administrasi yang terkait dengan klien yang dirawat merupakan bentuk pelayanan yang tidak kalah pentingnya.

Pelayanan yang bersifat medis khususnya di pelayanan keperawatan mengalami perkembangan teknologi informasi yang sangat membantu dalam proses keperawatan dimulai dari pemasukan data secara digital ke dalam komputer yang dapat memudahkan pengkajian selanjutnya, intervensi apa yang sesuai dengan diagnosis yan sudah ditegakkan sebelumnya, hingga hasil keluaran apa yang diharapkan oleh perawat setelah klien menerima asuhan keperawatan, dan semua proses tersebut tentunya harus sesuai dengan NANDA, NIC, dan NOC yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam database program aplikasi yang digunakan. Namun ada hal yang perlu kembali dipahami oleh semua tenaga kesehatan yang menggunakan teknologi informasi yaitu semua teknologi yang berkembang dengan pesat ini hanyalah sebuah alat bantu yang tidak ada gunanya tanpa intelektualitas dari penggunanya dalam hal ini adalah perawat dengan segala pengetahuannya tentang ilmu keperawatan.

Contoh nyata yang dapat kita lihat di dunia keperawatan Indonesia yang telah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer adalah terobosan yang diciptakan oleh kawan-kawan perawat di RSUD Banyumas. Sebelum menerapkan sistem ini hal pertama yang dilakukan adalah membakukan klasifikasi diagnosis keperawatan yang selama ini dirasa masih rancu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi, penjadwalan, evaluasi efektifitas intervensi sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan. Sistem ini mempermudah perawat memonitor klien dan segera dapat memasukkan data terkini dan intervensi apa yang telah dilakukan ke dalam komputer yang sudah tersedia di setiap bangsal sehingga akan mengurangi kesalahan dalam dokumentasi dan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang sudah dilakukan.

Pelayanan yang bersifat non-medis pun dengan adanya perkembangan teknologi informasi seperi sekarang ini semakin terbantu dalam menyediakan sebuah bentuk pelayanan yang semakin efisien dan efektif, dimana para calon klien rumah sakit yang pernah berobat atau dirawat di RS idak perlu lagi menunggu dalam waktu yang cukup lama saat mendaftarkan diri karena proses administrasi yang masih terdokumentasi secara manual di atas kertas dan membutuhkan waktu yang cukup lama mencari data klien yang sudah tersimpan, ataupun setelah sekian lama mencari dan tidak ditemukan akhirnya klien tersebut diharuskan mendaftar ulang kembali dan hal ini jelas menurunkan efisiensi RS dalam hal penggunaan kertas yang tentunya membutuhkan biaya. Bandingkan bila setiap klien didaftarkan secara digital dan semua data mengenai klien dimasukkan ke dalam komputer sehingga ketika data-data tersebut dibutuhkan kembali dapat diambil dengan waktu yang relatif singkat dan akurat.

Referensi:

Belajar Infromatika Keperawatan dari RSUD Banyumas. http://www.anisfuad.wordpress.com/ (18 oktober 2007, 10:32:08 AM).

Keperawatan di Indonesia

Model Praktik Keperawatan Profesional di Indonesia

Kamis, 7 November, 2002 oleh: Siswono
Model Praktik Keperawatan Profesional di Indonesia

Gizi.net – Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik keperawatan profesional (MPKP).

Salah satunya dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagai rumah sakit pendidikan dan rumah sakit rujukan nasional. Linda Amiyanti SKp dari RSCM memaparkan penerapan MPKP dalam seminar nasional yang diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) pekan lalu.

“MPKP adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut,” jelas Linda.

Saat ini, praktik pelayanan keperawatan di banyak rumah sakit di Indonesia belum mencerminkan praktik pelayanan profesional. Metoda pemberian asuhan keperawatan yang dilaksanakan belum sepenuhnya berorientasi pada upaya pemenuhan kebutuhan klien, melainkan lebih berorientasi pada pelaksanaan tugas.

Dengan pengembangan MPKP, diharapkan nilai profesional dapat diaplikasikan secara nyata, sehingga meningkatkan mutu asuhan dan pelayanan keperawatan. Dalam hal ini, RSCM bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Modifikasi

Mengingat keterbatasan jumlah dan pendidikan sumber daya perawat di Indonesia- mayoritas tenaga keperawatan masih lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK)-praktik keperawatan profesional tidak bisa seperti yang dilakukan di negara maju. Yang dilakukan adalah modifikasi keperawatan primer.

Penetapan jumlah tenaga keperawatan didasarkan jumlah klien/pasien dan derajat ketergantungan klien. Jenis tenaga adalah perawat primer (PP) yang lulusan S1 keperawatan, perawat asosiet (PA) lulusan D3 keperawatan, serta SPK. Tenaga lain adalah pembantu keperawatan. Mereka berada dalam satuan tim yang dibimbing dan diarahkan oleh Clinical Care Manager (CCM) yang merupakan magister spesialis keperawatan.

Tindakan yang bersifat terapi keperawatan dilakukan oleh PP, karena bentuk tindakan lebih pada interaksi, adaptasi, dan peningkatan kemandirian klien yang perlu landasan konsep dan teori tinggi. PP melakukan pertemuan dengan anggota tim kesehatan lain terutama dokter. PP juga mengarahkan dan membimbing perawat lain serta bertanggung jawab atas semua asuhan keperawatan yang dilakukan oleh tim pada sekelompok klien. Tugas PP dibantu PA.

Tugas membersihkan meja klien, menyediakan dan membersihkan peralatan yang digunakan, mengantar klien konsul atau membawa pispot ke dan dari klien dilakukan oleh pembantu keperawatan.

Asuhan keperawatan dilakukan berdasar standar rencana keperawatan yang ada. Ketua tim (PP) melakukan validasi terhadap diagnosis keperawatan klien berdasarkan pengkajian yang dilakukan.

Yang sudah dikembangkan

Standar rencana keperawatan yang sudah dikembangkan adalah untuk gangguan sistem pernapasan (tuberkulosis paru, penyakit paru obstruktif kronik), gangguan sistem pencernaan (sirosis hati), gangguan sistem kardiovaskuler (gagal jantung, hipertensi), gangguan sistem perkemihan (gagal ginjal, glomerulonefritis) dan gangguan sistem imun (AIDS).

Di ruang rawat penyakit dalam (IRNA B Lantai IV), tutur Linda, dari hasil perhitungan diperlukan 24 perawat. Rinciannya tiga PP di samping kepala ruang rawat yang semuanya S1 keperawatan. Sisanya PA dengan pendidikan D3 keperawatan (tiga orang), dan SPK (17 orang).

Pelayanan keperawatan profesional mewujudkan dampak positif yang memungkinkan pemberian asuhan keperawatan klien secara berkesinambungan dan dapat dipertanggunggugatkan oleh perawat primer.

Secara kualitatif, PP ada kebanggaan profesional karena ada otonomi dan kesempatan mengobservasi perkembangan klien secara berkesinambungan dan PA dapat bekerja lebih terencana. Dokter merasa ada kerja sama yang lebih baik dibanding ruang lain yang tidak menerapkan MPKP. Kepuasan klien dan keluarga lebih baik. Angka infeksi nosokomial (infeksi yang ditularkan di rumah sakit) menurun. Juga dimulai kegiatan riset keperawatan di tingkat ruang rawat. (ATK)

Sumber: Kompas, 7 November 2002

Published in: on Mei 2, 2009 at 2:15 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

“KOPSUS” di pagi hari

Hidup memang indah. Tatkala wajah kita tersenyum menatap indahnya sinar surya di pagi hari.

Hangat tubuh terasa begitu segar. Di bawah rindangnya pepohonan yang mengibarkan angin yang begitu sejuk

Harumnya aroma kopi yang menambah suasana menjadi hangat

Walau hidup penuh dengan beratnya beban yang kita pikul tapi jika kita hadapi semua dengan senyuman

Hidup takkan terasa berat. Dengan langkah awal jalani hidup dengan penuh keikhlasan

Mulailah dengan lafadz “Basmallah” jika hidup ingin terasa lancar

Keindahan akan menghiasi jalur hidup yang kita tempuh

Rasa syukur tak luput kita haturkan kepada Sang Khalik

TanpaNya hidup tak kan berarti.

Published in: on April 18, 2009 at 3:48 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.